Dec 29, 2013

Agresi

Credit Gambar: hamidahmuslimah.blogspot.com

     Definisi Dari Agresi
Agresi adalah perilaku fisik atau lisan yang disengaja dengan maksud untuk menyakiti atau merugikan orang lain (Myers, 1996).
Tingkah laku yang dijalankan oleh individu dengan tujuan melukai atau mencelakakan individu lain (Baron dalam Koeswara,1998).
Kita dapat mengambil kesimpulan bahwa Agresi adalah perilaku yang disengaja untuk merugikan orang lain.

Jenis-Jenis Agresi
Agresi adalah fenomena kompleks yang terdiri dari sejumlah perilaku dari jenis yang lebih khusus.
Menurut Myers (1966), Agresi terbagai atas dua jenis
  1. Agresi rasa benci atau agresi emosi (hostile aggression)
  2. Agresi sebagai sarana untuk mencapai tujuan lain (instrumental aggression)

Jenis agresi yang pertama adalah ungkapan kemarahan dan ditandai dengan emosi yang tinggi. Perilaku agrersif dalam jenis pertama ini adalah tujuan dari agresi itu sendiri. Jadi, agresi sebagai jenis panas. Akibat dari jenis ini tidak dipikirkan oleh pelaku dan pelaku memang tidak peduli jika akibat perbuatannya lebih banyak menimbulkan kerugiandaripada manfaat. Contoh: istri yang melempari suaminya dengan piring karena cemburu.(Sarlito:2005, h. 299).
Jenis agresi instrumental pada umumnya tidak disertai emosi. Bahkan, antara pelaku dan korban kadang-kadang tidak ada hubungan pribadi. Agresi di sini hanya merupakan sarana untuk mencapai tujuan lain. Contoh: Serdadu membunuh untuk merebut wilayah musuh sesuai perintah komandan.

Klasifikasi-Klasifikasi Agresi
            Klasifikasi dari Moyer
Moyer (1968) menyajikan klasifikasi awal berupa tujuh bentuk agresi, dari sudut pandang biologis dan evolusi.
  1. Agresi pemangsa: serangan terhadap mangsa oleh pemangsa.
  2. Agresi antar jantan: kompetisi antara jantan dari spesies yang sama mengenai akses terhadap sumber tertentu seperti betina, dominansi, status, dsb.
  3. Agresi akibat takut: agresi yang dihubungkan dengan upaya menghindari ancaman.
  4. Agresi teritorial: mempertahankan suatu daerah teritorial dari para penyusup.
  5. Agresi maternal: agresi dari perempuan/betina untuk melindungi anaknya dari ancaman. Ada juga agresi paternal.
  6. Agresi instrumental: Agresi yang ditujukan untuk mencapai suatu tujuan. Agresi ini dianggap sebagai respon yang dipelajari terhadap suatu situasi.
Klasifikasi Sekarang
Kini, ada konsensus dalam komunitas ilmiah untuk setidaknya dua kategori besar dari agresi, dikenal sebagai agresi afektif dan agresi instrumental. Penelitian empiris mengindikasikan bahwa klasifikasi ini adalah perbedaan yang penting, baik secara psikologis atau fisiologis. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang yang cenderung melakukan agresi afektif mempunyai IQ yang lebih rendah dibanding yang cenderung melakukan agresi instrumental.
  1. Teori Teori Tentang Agresi
Teori tentang Agresi terbagi atas beberapa kelompok, yaitu teori Bawaan atau Bakat, teori Environmentalis atau teori Lingkungan, dan teori Biologi.
Teori Bawaan
  1. Teori Naluri
Freud dalam teori psikoanalisis klasiknya mengemukakan bahwa agresi adalah satu dari dua naluri dasar manusia. Naluri agresi atau tanatos ini merupakan pasangan naluri seksual atau eros. Jika naluri seks berfungsi untuk melanjutkan keturunan, naluri agresi berfungsi mempertahankan jenis. Kedua naluri tersebut berada dalam alam ketidaksadaran, khususnya pada bagian dari kepribadian yang disebut id yang pada prinsipnya selalu ingin agar kemauannya dituruti (prinsip kesenangan atau pleasure principle). Akan tetapi, tidak semua keinginan id dapat dipenuhi. Kendalinya terletak pada bagian lain dari kepribadian yang dinamakan super-ego yang mewakili norma-norma yang ada dalam masyarakat dan ego yang berhadapan dengan kenyataan. Karena dinamika kepribadian seperti itu, sebagian besar naluri agresif manusia direndam (repressed) dalam alam ketidaksadaran dan tidak muncul sebagai perilaku yang nyata.
Teori naluri lainnya.dikemukakan oleh K. Lorenz (1976). Dari pengamatannya terhadap berbagai jenis hewan, Lorenz menyimpulkan bahwa agresi merupakan bagian dari naluri hewan yang diperlukan untuk survivel (bertahan) dalam proses evolusi. Agresi yang bersifat survival ini, menurut Lorenz, bersifat adaptif (menyesuaikan diri terhadap lingkungannya), bukan destruktif (merusak lingkungan).
  1. Teori Biologi
Teori biologi mencoba menjelaskan perilaku agresif, baik dari proses faal maupun teori genetika (ilmu keturunan). Yang mengajukan proses faal yaitu Moyer (1976) yang berpendapat bahwa perilaku agresif ditentukan oleh proses tertentu yang terjadi di otak dan susunan syaraf pusat.
Demikan pula hormon laki-laki (testosteron) dipercaya sebagai pembawa sifat agresif. Menurut tim American Psychological Association (1993), kenakalan remaja lebih banyak terdapat pada remaja pria, karena jumlah testoteron menurun sejak 25 tahun. Reilly dkk. (1992) mendapatkan bahwa laki-laki lebih toleran terhadap pelecehan seksual daripada wanita karena pada laki-laki terdapat lebih banyak hormon testosteron.
Dalam teori genetika, Lagerspetz (1979) melakukan uji coba dengan mengawinkan tikus putih agresif dan tikus putih yang tidak agresif. Setelah 26 generasi, diperoleh 50% tikus yang agresif dan 50% tikus yang tidak agresif.
Teori Lingkungan
Inti dari teori ini adalah perikalu agresi merupakan reaksi terhadap peristiwa atau stimulus yang terjadi di lingkungan.
  1. Teori Frustrasi-Agresi Klasik
Dollard dkk. (1939) dan Miller (1941) berpendapata bahwa agresi dipicu oleh frustrasi. Frustrasi itu sendiri adalah hambatan terhadap pencapaian suatu tujuan. Dengan demikian agresi adalah pelampiasan dari perasaan frustrasi.
  1. Teori Frustrasi-Agresi Baru
Burnstein dan Worchel (1962) membedakan antara frustrasi dan iritasi. Jika suatu hambatan terhadap pencapaian tujuan dapat dimengerti alasannya, yang terjadi adalah iritasi (gelisah, sebal), bukan frustrasi (kecewa, putus asa).
Berkowitz (1978, 1989) mengatakan bahwa frustrasi menimbulkan kemarahan dan emosi marah inilah yang memicu agresi. Agresi beremosi benci itu pun tidak terjadi begitu saja. Kemarahan memerlukan pancingan (cue) tertentu untuk dapat menjadi perilaku agresi yang nyata (Berkowitz & Le Page, 1967).
Hal lain yang perlu diketahui tentang hubungan antara frustrasi dan agresi ini adalah bahwa tidak selalu agresi berhenti atau tercegah dengan sendirinya jika hambatan terhadap tujuan sudah teratasi.
  1. Teori Belajar Sosial
Teori belajar sosial lebih memperhatikan faktor tarikan dari luar. White & Humphrey (1994) mendapatkan bahwa wanita-wanita yang agresif telah mengalami sendiri perlakuan agresif terhadap dirinya, baik yang diperolehnya dari orang tuanya, teman prianya, maupun pacarnya. Rubin (1986) mengemukakan bahwa aksi terorisme yang tidak mendapat tanggapan dari media massa tidak akan berlanjut. Jadi ganjaran yang diperoleh dari perilaku agresif akan berpengaruh pada peningkatan perilaku tersebut.
Teori Kognisi
Teori kognisi berintikan pada proses yang terjadi pada kesadaran dalam membuat penggolongan (katagorsasi), pemberian sifat-sifat (atribusi), penilaian, dan pembuatan keputusan (Kawakami & Dion, 1995).


PENGARUH TERHADAP AGRESI
Beberapa hal yang dapat merangsang agresivitas, terlepas dari faktor faktor yang mendasarinya. Rangsangan atau pengaruh terhadap agresivitas itu dapat datang dari luar diri sendiri (kondisi lingkungan atau pengaruh kelompok) atau dari diri pelaku (pengaruh kondisi fisk dan kepribadian). Berikut adalah uraian ketiga jenis pengaruh tersebut terhadap agresi.
 
Kondisi Lingkungan 
Rasa sakit pada hewan dapat memicu agresi (Azin, 1967). Pada manusia, bukan hanya sakit fisik yang dapat memicu agresi, melainkan juga sakit hati (psikis) (Berkowitz, 1983, 1989). Demikian pula udara yang sangat panas lebih cepat memicu kemarahan dan agresi (Griffit, 1971). Adanya serangan cenderung memicu agresi karena pihak yang diserang cenderung membalas (Taylor & Pisano, 1971; Dengerink & Meyes, 1977; Ohbuchi & Kambara, 1985).
Rasa sesak berjejal (crowding) juga bisa memicu agresi. Di daerah perkotaan yang pada penduduk selalu lebih banyak terjadi kejahatan dengan kekerasan (Fleming, Baum & Weiss, 1987). Peningkatan agresivitas di daerah yang sesak berhubungan dengan penurunan perasaan akan kemampuan diri untuk mengedalikan lngkungan sehingga terjadi frustrasi.
Faktor lingkungan yang lain yang memicu agresi, khususnya terhadap wanita, adalah pornografi. Dalam hubungan ini yang memicu agresi bukanlah pemaparan tubuh wanita, melainkan bagaimana reaksi wanita digambarkan dalam media pornografi itu. Pada umumnya, wanita digambarkan sebagai “kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak mau”. Awalnya ia menolak atau melawan mati-matian terhadap usaha laki-laki yang menginginkan (bahkan memaksakan) hubungan seks, tetapi lama-lama ia menyerah dan akhirnya malah ia ikut menikmati hubungan seks itu. Penggambaran yang salah tentang reaksi wanita terhadap hubungan seks menimbulkan kesan yang keliru pula pada pria. Laki-laki mengira bahwa wanita memang senang diperkosa (Malamuth & Check, 1981) sehingga simpati laki-laki terhadap wanita korban perkosaan pun berkurang (Linz, Donnerstein & Adams, 1989; Linz, Donnerstein & Penrod, 1988).
Pengaruh Kelompok
Pengaruh kelompok terhadap perilaku agresif, antara lain adalah menurunkan hambatan dari kendali moral. Ketika seseorang melihat orang-orang lain mengambil televisi, lemari es, dan benda-benda berharga lainnya dari toko-toko pada kerusuhan musim panas 1992 di Los Angeles, orang yang tadinya ragu-ragu untuk ikut mengambil jadi ikut-ikutan mengambil juga. Selain karena faktor terperngaruh, juga karena ada perancuan tanggung jawab (tidak merasa ikut bertanggung jawan karena dikerjakan beramai-ramai), ada desakan kelompok dan identitas kelompok, (kalau tidak ikut dianggap bukan anggota kelompok), dan ada deindividuasi (identitas sebagai individu tidak akan dikenal) (Staub, 1996).
Pengaruh lain dari kelompok terhadap perilaku agresif pengguna alkohol. Pengguna alkohol dapat memicu agresivitas. Dalam kenyataannya di bar-bar dan tempat-tempat minum lainnya merupakan tempat yang memiliki angka kekerasan dan agresi yang sangat tinggi. Selain itu, pelaku-pelaku inses (hubungan seks dengan anak atau saudara kandung) dan kekerasan dalam perkawinan adalah pecandu alkohol (Barnard, 1989).
 
Pengaruh Kepribadian dan Kondisi Fisik
Berikut ini perlu kita kaji pula bagaimana pengaruh kepribadian serta kondisi diri manusia sendiri terhadap perilaku agresi.
Salah satu teori sifat (trait) mengatakan bahwa orang-orang dengan tipe kepribadian A (yang bersifat kompetitif, selalu terburu-buru, ambisius, cepat tersinggung, dan sebagainya) lebih cepat menjadi agresif daripada orang dengan tipe kepribadian B (ambisinya tidak tinggi, sudah puas dengan keadannya yang sekarang, cenderung tidak buru-buru, dan sebagainya.) (Glass, 1977). Sementara itu, suatu penelitian menemukan bahwa kepribadian tipe A lebih cenderung berperilaku agresi instrumental (Baron, Russel & Arms, 1985; Berman, Glande & Taylor, 1993), sedangkan kepribadian tipe B cenderung berperilaku agresi emosi (Strube dkk., 1984).
Pengaruh lain dari sifat kepribadian terhadap perilaku agreseif adalah sifat pemalu. Orang yang bertipe pemalu cenderung menilai rendah diri sendiri, tidak menyukai orang lain, dan cenderung mencari kesalah kepada orang lain. Oleh karena itu, tipe pemalu cenderung lebih agresif dari orang yang tidak pemalu (Tangney, 1990; Harder & Lewis, 1986).
Sifat pemalu masih ada hubungannya dengan harga diri. Sehubungan dengan gejala pemalu yang menyebabkan agresivitas tersebut ada pendapat umum bahwa harga diri yang rendah juga menyebabkan agresivitas. Akan tetapi, penelitian justru membuktikan sebaliknya. Harga diri yang tinggi justru memberi perluang besar untuk agresif. Penyebabnya antara lain adalah karena orang dengan harga diri tinggi merasa lebih percaya diri, kalau berkonfli dengan orang lain ia akan berada di pihak yang menang, dan bahwa selaku orang yang nilainya lebih tinggi dari orang lain, ia merasa berhak untuk agresif kepada orang lain (Baumerster, Smart & Boden, 1996).
di samping harga diri masih ada batasan atau kendali dari moral. Jika bertipe kepribadian A, pemalu atau harga diri yang tinggi merangsang agresivitas, tingkat perkembangan moral justru menghambat. Semakin tinggi tingkat perkembangan moral justru semakin rendah perilaku agresifnya (Rosalinda, 1986). Kendali lain adalah locus of control. Dalam pengertian Rokeach, orang yang mempunyai locu of control (LC) internal lebih bisa mengendalikan dirinya sendiri daripada orang dengan LC eksternal (perilakunya lebih mudah dipengaruhi oleh faktor-faktor luar) (Yahya, 1996).
Faktor kepribadian lainnya adalah peran jeni kelamin. Pria yang maskulin pada umumnya lebih agresif daripada wanita yang feminin. Tentunya gejala ini ada hubungannya dengan faktor kebudayaan, yaitu pada umumnya wanita diharapkan oleh norma masyarakat untuk lebih mengekang agresivitasnya. Namun, dengan adanya perubahan budaya (seperti gerakan feminimisme) terjadi pergeseran peran jenis kelamin yang pada gilirannya juga akan meningkatkan agresivitas pada wanita (Sawrie, Watson & Biderman, 1991).
Dalam hubungan suami-istri, kalau terjadi perselingkuhan, suami yang istrinya berselingkuh ternyata lebih frustrasi dari pada istri yang suaminya berselingkuh. Akan tetapi. Yang lebih agresif adalah wanita (Paul & Galloway, 1994). Dalam keadaan itu, istri akan agresif baik terhadap laki-laki (suaminya sendiri) maupun pada wanita (pasangan selingkuh suaminya). Sebaliknya, jika laki-laki yang mengalaminya, agresivitasnya akan lebih banyak ditujukan kepada istrinya sendiri (dengan tujuan untuk lebih mengendalikan istrinya) daripada kepada laki-laki lain (Malamuth & Thornhill, 1994).


DAMPAK AGRESI 
Agresi yang dilakukan berturut-turut dalam jangka lama, apalagi jika terjadi pada anak-anak atau sejak masa kanak-kanak, dapat mempunyai dampak padaa perkembangan kepribadian. Misalnya, wanita yang pada masa kanak-kanaknya mengalami salah perlakuan fisik dan/atau seksual, pada masa dewasanya (18-44 tahun) akan menjadi depresif, mempunyai harga diri yang rendah, sering menjadi korban serangan seksual, terlibat dalam penyalahgunaan obat, atau mempunyai pacar yang terlibat dalam penyalahgunaan obat (Fox & Gilbert). Demikian pula, walau tidak mengalami agresivitas dalam jangka lama, pelajar-pelajar wanita di Amerika Serikat yang pernah mengalami pelecehan seksual menderita berbagai macam gangguan, seperti tidak mau sekolah, tidak mau bicara di kelas, tidak dapat berkonsentrasi di kelas, membolos sekolah, nilai ulangannya jelek, dan nilai rapornya turun (Bryant, 1995). Bahkan, dalam suatu eksperimen, melihat rekaman video tentang agresivitas terhadap wanita bisa meningkatkan perasaan tidak berdaya pada wanita yang melihatnya (Reid & Finchilescu, 1995).
Agresi itu pun dapat berlanjut dari generasi ke generasi. Ibu yang agresif cenderung mempunyai anak yang agresif terhadap anaknya pula (Cappell & Heiner, 1990).

MENGURANGI AGRESI 
Masalahnya adalah bahwa terlalu banyak faktor yang memengaruhi agresi, dan belum ada satu faktor pun yang dapat dianggap sebagai faktor utama. Bagi orang yang percaya pada teori bawaan, misalnya, upaya meredakan agresi adalah melalui kartasis. Melalui kartasis (misalnya, dengan menonton televisi-agresi atau menonton pertunjukan-pertunjukan olah raga keras seperti tinju), naluri agresi akan tersalurkan dan manusia tidak perlu lagi melampiaskan agresivitasnya kepada orang lain. (Sarlito, 2005)
Penganut teori belajar sosial, umpamanya, tidak sependapat dengan teori katarsis ini. Mereka berpendapat bahwa karena agresi dipelajari, agresi juga dapat dikurangi atau dicegah malalui proses belajar yang sama. Melalu prinsip penjenuhan, misalnya Hamblin dkk. (1969) mengusulkan bahwa untuk mencegah agresivitas pada anak, cara yang terbaik adalah dengan mengabaikan agresivitas itu sendiri. Perilaku agresif dari anak yang tidak pernah mendapat perhatian dari orang tua lama kelamaan akan hilang sendiri. Baron (1977) mengusulkan hukuman yang keras, langsung, dan pasti kepada perilaku agresif yang diikuti dengan ganjaran yang positif terhadap perilaku yang dikehendaki sehingga perilaku agresif itu ditinggalkan atau dihindari oleh pelakunya sendiri. Akan tetapi, menurut Myers (1996) hukuman yang efektif kepada perilaku agresif yang instrumental, sementara agresi yang didasarkan emosi tidak dapat dicegah dengan menghukumnya. Padahal, sebagian besar dari agresi di dunia ini adalah agresi emosi, bukan agresi instrumental. (Sarlito, 2005)
  Menurut Koeswara (1988), cara atau teknik sebagai langkah-langkah konkret yang dapat diambil untuk mencegah kemunculan atau berkembangnya tingkah laku agresi itu adalah: penanaman modal, pengembangan tingkah laku non-agresi, dan pengembangan kemampuan memberikan empati.
  1. Penanaman moral
Penanaman moral merupakan langkah yang paling tepat untuk mencegah kemunculan tingkah laku agresi. penanaman moral ini akan berhasil apabila dilaksanakan secara berkesinambungan dan konsisten sejak usia dini di berbagai lingkungan dengan melibatkan segenap pihak yang memikul tanggung jawab dalam proses sosialisasi.
2. Pengembangan Tingkah Non Agresi
Untuk mencegah berkembangnya tingkah laku agresi, yang perlu dilakukan adalah mengembangkan nilai-nilai yang mendukung perkembangan tingkah laku non agresi, dan menghapus atau setidaknya mengurangi nilai-nilai yang mendorong perkembangan tingkah laku agresi.
3. Perkembangan Kemampuan Memberikan Empati
Pencegahan tingkah laku agresi bisa dan perlu menyertakan pengembangan kemampuan mencintai pada individu-individu. adapun kemampuan mencintai itu sendiri dapat berkembang dengan baik apabila individu-individu dilatih dan melatih diri untuk mampu menempatkan diri dalam dunia batin sesama serta mampu memahami apa yang dirasakan atau dialami dan diinginkan maupun tidak diinginkan sesamanya. Perkembangan kemampuan memberikan empati merupakan langkah yang perlu diambil dalam rangka mencegah berkembangnya tingkah laku agresi.

================

Referensi

Behar, D., J. Hunt, A. Ricciuti, D. Stoff, and B. Vitiello. "Subtyping Aggression in Children and Adolescents." The Journal of Neuropsychiatry & Clinical Neurosciences 2 (1990): 189-192. 7 Dec. 2006 
 
Berkowitz, L. (1993). Aggression: Its causes, consequences, and control. New York, NY: McGraw-Hill. 
 
Bushman, B.J. & Anderson, C. A. (2001) Is it time to pull the plug on the hostile versus instrumental aggression dichotomy? Psychological Review 108:273-279. 
 
McElliskem, Joseph E. "Affective and Predatory Violence: a Bimodal Classification System of Human Aggression and Violence." Aggression & Violent Behavior 10 (2004): 1-30. 7 Dec. 2006

Sarwono, Sarlito Wirawan (2005): Psikologi Sosial: Individu Dan Teori-Teori Psikologi Sosial.

Moyer, KE. 1968. Kinds of aggression and their physiological basis. Communications in Behavioral Biology 2A:65-87.

http://id.wikipedia.org/wiki/Agresi
 

Feb 10, 2013

Mocca - Hanya Satu



Intro : A D A D

      A         F#m
hanya satu pintaku
      Bm               E
tuk memandang langit biru
      F#m     A      Bm E
dalam dekap seorang ibu

      A          F#m
hanya satu pintaku
       Bm             E
tuk bercanda dan tertawa
       F#m    E      A
di pangkuan seorang ayah

[Reff]

    F#m    A
apa bila ini
      F#m         C#m
hanya sebuah mimpi
   Bm           C#m
ku selalu berharap
        D           E
dan tak pernah terbangun


      A         F#m
hanya satu pintaku
      Bm               E
tuk memandang langit biru
      F#m   E        A D A D
dipangkuan ayah dan ibu

Interlude : A F#m Bm E F#m A B E
                 A F#m Bm E F#m E A

       F#m    A
apa bila ini
      F#m         C#m
hanya sebuah mimpi
   Bm           C#m
ku selalu berharap
        D           E
dan tak pernah terbangun


      A         F#m
hanya satu pintaku
      Bm               E
tuk memandang langit biru
      F#m   E        A D A D
dipangkuan ayah dan ibu

Feb 27, 2012

mengendalikan emosi(amarah)





       semua orang punya emosi, dan sayapun sebagai penulis mempunyai emosi... tipikal orang itu berbeda-beda... dari orang yang selalu menyimpan emosinya sampai orang yang selalu mengeluarkan emosinya... banyak orang bilang bahwa orang yang selalu menyimpan emosi secara terus-menerus sewaktu-waktu akan meledak seperti gunung berapi dan lebih anarkis/melakukan hal yang berlebih ketimbang orang yang sering mengeluarkan emosi... orang yang sedang emosi biasanya:

  1. berkata yang menyakitkan hati, baik itu orang yang membuat dia marah ataupun orang-orang terdekat/disekitarnya.
  2. lari ke minuman keras (bukan es batu) untuk membuat dirinya lebih tenang.katanya minuman keras dapat melupakan masalah yang ada ketika saat "fly".
  3. lari ke obat-obatan terlarang... obat-obatan terlarang/narkoba adalah hal yang extreme menurut saya jikalau hanya sedang marah langsung pada narkoba... tetapi dalam faktanya memang benar-benar ada.
  4. ringan tangan... ini adalah hal yang wajar terjadi jikalau sedang marah, karena semua orang yang emosional terutama remaja seperti saya pasti ringan tangan, bukan hanya kepada orang lain tetapi kepada barangpun bisa...
  5. menangis dan larut dalam emosional yang ada... biasanya ini adalah pekerjaan wanita... menurut orang-orang, wanita lebih emosional dan jikalau mereka marah, meraka hanya bisa menangis karena hatinya yang "lembut"...
      Sekarang bagaimana cara agar kita sebagai manusia agar senan tiasa mengendalikan "Emosi"?? ini tipsnya...

  • Dengan Tahu Ketika Orang Marah Dan Kita Marah
Maksud dari kata diatas adalah bagaimana tanggapan kita yang sedang marah ditenangkan orang lain... betapa tidak tahu malunya kita jikalau kita menenangkan orang lain dengan "sok baiknya" sedangkan jika kita ditenangkan orang lain malah kita marah-marah padanya atau bahkan mencaci maki dirinya... ini yang saya sebut dengan "JATI DIRI"... Kita harus tahu watak/sifat kita seperti apa... kita harus mengerti siapa kita pada saat tidak tersadar dan tersadar... dengan seperti itu maka kita akan tahu bagaimana rasanya memarahi atau dimarahi orang... itu akan mengurangi sifat jelek kita jika kita sedang marah

  • Dengan Tidur
Menurut saya ini adalah alternatif yang paling efisien pengganti minuman keras dan narkoba... hadits menyatakan jika kita marah duduklah, jika tidak berpengaruh berbaringlah... dalam hadits dinyatakan jika kita duduk itu akan mengurangi emosi kita ketika sedang marah.... jika berpengaruh sedikit... maka berbaringlah dan itu akan menenangkan kita jikalau kita sedang marah... saya mendapat rahasia jitu jikalau kita sedang marah dan hal itu adalah hal yang tidak bisa diperbaiki/hanya bisa terulang kembali... yaitu dengan tertidur... tertiduur akan menenangkan hati, fisik, dan jiwa kita jikalau sedang marah....

  • Berpikir Rasional Sebelum Bertindak
Menurut saya ini adalah hal yang paling sulit jikalau sedang marah... betapa sulitnya ketika kita sedan marah bertemu dengan nafsu dan akhirnya akal sehat kitapun buyar karena nafsu itu sendiri... tapi tidak ada salahnya jika kita mencoba hal ini... ingat jangan "sok baik/pinter" menasihati hal yang seperti ini jikalau kitapun tidak bisa melakukannya... beberapa kartun yang saya tonton adalah ketika amarah kita sedang tidak bisa kita kendalikan kita bisa berhitung sampai 10 dengan pelan-pelan sampai hati kita tenang(ini termasuk Berfikir Rasional Karena kita berusaha agar kita tenang daripada merusak barang atau marah-marah kepada orang lain)... jika tidak berteriaklah sekencang-kencangnya(kalau bisa jangan dirumah/ditempat umum, itu akan memicu orang untuk marah juga :D)...
  • Bersikap Tidak Peduli Dengan Masalah Yang Ada
Bersikap Tidak Peduli Dengan Masalah Yang Ada membuat segala masalah seperti hal yang tidak terlalu penting dan itu akan mengurangi emosi kita dengan masalah itu... maka disarankan untuk kita agar bersikap "cuek" walaupun masalah terlampau cukup sulit... tetapi bukan berarti masalah itu harus ditinggalkan... tetapi masalah itu diselesaikan dengan cepat dan santai... itu akan membuat hati kita tenang

  • Jangan Cepat Marah Jika Hal Itu Tidak Perlu DiAmbil Hati
Terkadang orang-orang marah karena sesuatu hal... dari hal yang kecil sampai hal yang besar... jika kita cerdas, kita tidak akan memperdulikan hal yang sepele seperti dilihati oleh orang lain... tetapi yang saya lihat ada orang-orang yang jikalau dia dilihati oleh orang yang tidak dikenalnya secara terus-menerus, dia langsung marah dan mengajak orang itu untuk berkelahi. ini adalah hal yang tidak rasional menurut saya... jika kita cerdas kita akan berpikir positif dan menganggap hal itu sebagai hal yang biasa.

  • Dengan Adanya Teman Curhat
Kadang orang-orang tidak memikirkan bahwa "Teman Curhat" itu penting bagi kehidupan kita... teman curhat dapat mengikis emosi kita... kita hanya mengatakan masalah kita padanya dan dengan empatinya dia dapat mengatasi/memberi solusi tentang masalah kita... tidak peduli itu laki-laki ataupun perempuan... "Teman Curhat" adalah cara yang terbaik menurut saya karena dengan curhat kita dapat menenangkan hati kita sampai sedalam-dalamnya...

Itu adalah sedikit tips tentang "mengendalikan emosi(amarah)" dari saya... bukannya saya sok pinter, tetapi saya sok tahu... hihihi :D.... semoga bermanfaat dan selamat mencoba tips ini... sampai jumpa...

Jan 24, 2012

Cara Menghilangkan Rasa Kesepian

Apasih Kesepian Itu??? Dan Bagaimana Cara Menghilankannya???

Kesepian adalah suatu perasaan dimana seseorang merasa tidak dipedulikan, tidak dipedulikan dan merasa berbeda dengan teman sebayanya. Jika Kita ingin melawan kesepian itu dengan sekuat tenaga, kesepian itu akan menyerang balik kepada dan akhirnya hati kita akan semakin hancur, lebihmudah sakit dan bahkan akan mati.

Cara Menghilangkannya Yaitu:

1. Sibukkanlah Diri Sendiri

Menyibukkan diri Kita/Anda akan mengurangi rasa kesepian yang ada dipikiran anda, contoh yang paling simple adalah mengerjakan PR sekolah atau kantor anda, membuat proyek atau riset sekedar ingin tahu atau iseng.


2. Ikut Organisasi Atau Komunitas


Ikut Organisasi Atau Komunitas membuat anda sibuk dengan kegiatan-kegiatan sambil belajar bersosialisasi atau bahkan me-manage orang dan anda tidak sendiri lagi bersama mereka. Ada banyak organisasi atau komunitas yang bisa anda ikuti asalkan sesuai dengan ideologi anda. Organisasi juga dapat megembangkan sifat, watak anda

3. Kenali Apa Yang Membuatmu Kesepian

Mengenali Sifat anda adalah cara untuk membuat anda nyaman dan berfikir, mengenali kesepian anda adalah manfaat besar... Semakin besar Anda memahami Kesepian anda, semakin besar celah untuk bisa keluar dari Kesepian anda

4. Interaksi
  
Jika anda orang yang Jarang atau bahkan tidak mau berinteraksi dengan teman sebaya anda, maka anda adalah orang yang rugi, karena orang yang jarang atau bahkan tidak mau berinteraksi akan menjadi orang yang tidak tahu arti sosial dalam prakteknya. terus perilaku anda akan menjadi kaku, tidak tahu "style" dari zaman ke zaman dan perilaku anda tidak seperti orang lain yang  sebaya dengan anda, dan itu akan mengakibatkan Kesepian. maka mulai dari sekarang, jika anda tidak berinteraksi, interaksilah sekarang dengan orang lain.

Terimakasih telah membaca Artikel ini, semoga membantu.... Salam :D

Jun 28, 2011

CloseHead - Berdiri Teman





Kering kerontang jalan yang terbentang 
Teka-teki hidup apalagi ini 
Hati pun melemah saat kan kembali pulang 

Tak usah berharap lebih tuk berlari 
Mungkin hari ini tak pernah kembali 
Berjalanlah perlahan menyelesaikan hari 
Hari... 


[chorus] 
Jangan kau jadikan satu kenangan  
yang memilukan Berdiri teman 
Jalan begitu banyak terbentang 
Jangan kau lewatkan tanpa harapan 
Berdiri teman 
Dengan harapan Berdiri teman 

Tak usah berharap lebih tuk berlari 
Mungkin hari ini tak pernah kembali 
Berjalanlah perlahan menyelesaikan hari 
Hari... hari.. 

Jangan jadikan kenangan 
Teka teki hidup yang nyata 
Jangan jadikan kenangan 
Teruslah berjalan perlahan 

[chorus] 
Jangan kau jadikan satu kenangan  
yang memilukan Berdiri teman 
Jalan begitu banyak terbentang 
Jangan kau lewatkan tanpa harapan 
Berdiri teman 

Dengan harapan Berdiri teman 
Jangan kau jadikan satu kenangan  
yang memilukan Berdiri teman
Jalan begitu banyak terbentang
Jangan kau lewatkan tanpa harapan
Berdiri teman
Berdiri teman Berdiri teman

Jun 14, 2011

CloseHead - Kekasih Sejatiku Adalah Kesunyian

 
Fig1
A#5 F5 A#5 F5
Fig2
G5 F5 D#5
Fig1
A#5 F5 A#5 F5
Fig2
G5 F5 D#5
A#5      F5       D#5      A#5
kekasih sejatiku adalah kesunyian
D#5      A#5      F5
di dalam kegelapan yang kuingin 
D#5      A#5
menjadi terang kembali

Fig1
A#5 F5

A#5      F5       D#5      A#5
merasa kehilangan hanyalah perasaan
D#5      A#5      F5
dalam kesendirian yang kuingin
D#5      A#5
sosok terangmu kembali

Fig1
A#5 F5

A#5      F5       A#5      F5
semua langkahku kan kuraih
G5       F5       D#5
saat ku terang kembali

Fig1
A#5 F5 A#5 F5
Fig2
G5 F5 D#5

A#5      F5       D#5      A#5
kekasih sejatiku adalah kesunyian
D#5      A#5      F5
di dalam kegelapan yang kuingin 
D#5      A#5
menjadi terang kembali

Fig1
A#5 F5

Fig3      
A#5 D#5   4x

A#5      F5       A#5      F5
semua langkahku kan kuraih
G5       F5       D#5
saat ku terang kembali

A#5      F5       A#5      F5
semua langkahku kan kuraih
G5       F5       D#5
saat ku terang kembali

C5       D5       D#5      E5
dulu kakiku hanya beralaskan setapak tanah
C5       D5       D#5      E5
kepalaku pun hanya beratapkan langit kelam
C5       D5       D#5      E5
kekasih sejatipun hanyalah kesunyian
C5       D5       D#5      E5
di dalam kegelapan yang kuinginkan

A#5      F5       A#5      F5
semua langkahku kan kuraih
G5       F5       D#5
saat ku terang kembali

Mar 22, 2011

CloseHead - Berharap Berarti


G Am Em C G Am Em C
takkan kuulangi dan takkan ku mengerti mimpi yang tak terbeli
G Am Em C G Am Em C
tak pernah terasa meski nafasku tersenggal lagi berharap berarti

*) G Am Em C
tlah lama kurasakan pahitnya hidup ini
G Am Em C
menanti harapan tak pasti

G Am Em C G
tinggalkan semua alunanku kini
Am Em C G
yang tak pernah memberi aku jadi diri yang
Am Em C G Am Em
kuinginkan hanyalah sebuah satu jawaban terang
C G
tuk temani hidupku,
intro, back to *)